AYAH NOMOR SATU DI DUNIA

Standar

AYAH NOMOR SATU DI DUNIA

Beliau bukanlah Bill Gate yang pernah menjadi pencetus orang terkaya didunia, bukanlah mario teguh yang  lihai merangkai kata-kata untuk memotivasi  orang dan bukan jua Iwan false yang mampu mengekspresikan isi hatinya lewat syair lagunya. Beliau hanya seorang turunan Adam yang sangat kurang beruntung di masa kecil hingga dewasa, dunia pendidikan hanya dicicipinya hingga kelas dua SD. Masa kecil   yang seharusnya bergulir dengan  bermain dan belajar  sudah direnggut orang tuanya untuk menafkahi keluarga. Sebagai anak laki-laki bungsu dari dua laki-laki bersaudara dan dari tujuh saudara perempuan beliau menjadi salah-satu pilar rumah tangga keluarganya. Beliau melepaskan tanggung jawab keluarga besarnya setelah beliau membangun keluarga yang baru. Jadi, urusan kepemimpinan keluarga bukanlah hal yang tabu lagi bagi beliau.

Semenjak aku dilahirkan dan mulai mengenal sosoknya, aku mengenal beliau melebihi Bill Gate, mario teguh dan Iwan False  karena beliau mampu menata dan meniti kehidupan ini tanpa bermodalkan pendidikan yang tinggi dan harta yang berlimpah-ruah. “Hidup adalah perjuangan” rangkaian kata-kata ini selalu menjadi acuan bagi beliau.   Beliau hidup dengan kesederhanaan dan menjalani hidup dengan penuh semangat. Meskipun beliau tidak mempunyai pendidikan yang tinggi,namun beliau sangat mendukung turunannya untuk melanjutkan pendidikannya setinggi mungkin. Hal ini yang menjadi kebanggaan tersendiri bagiku. Dia adalah ayah nomor satu didunia bagiku.

Aku sebut dia ayah nomor satu di dunia karena beliau mampu mengirimku sekolah hingga perguruan tinggi kendatipun beliau tidak lulus sekolah dasar dan tidak mempunyai harta warisan dari orang tua yang dapat dikelolanya.  Bukan hanya masalah pendidikanku, dua saudara laki-lakiku dan seorang saudara perempuanku yang menjadi beban hidupnya akan tetapi beliau harus memikirkan biaya kebutuhan sehari-hari kami, dan biaya-biaya lainnya. Itulah motifku menyebut beliau lebih kaya daripada  Bill Gate, lebih inspiratif daripada  Mario Teguh dan lebih ekspresif daripada Iwan false.

Diusianya menjelang 43 an. Beliau nampak sudah begitu tua. Rambutnya yang mulai memutih, keriput dahinya menunjukkan perjalanan hidupnya selama ini, keriput tulang pipinya yang belum selayaknya beliau miliki dan Giginya yang terdepan  telah tanggal satu merupakan salah-satu  ciri khuhusnya. Acapklali aku meneteskan air mata ketika aku bertanya tentang tanggal lahir beliau. Beliau tidak tahu sama sekali tanggal berapa lahir karena almarhum dan almarhumah orangtuanya tidak pernah sama sekali mengatakannya kepada beliau. Beliau tahu tahun lahirnya karena beliau mencocokkannya dengan teman sebayanya. Beliau tidak seperti kebanyakan orang secara umumya yang mampu mengenang masa kelahirannya. Hari berganti minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun dilalluinya bekerja dengan penuh semangat untuk menafkahi keluarganya.

 

GADIS PENEBAR SENYUM

Standar

GADIS PENEBAR SENYUM

 

Pagi itu Padangsidimpuan diguyur hujan, tanpa terkecuali di daerahku  yang lebih akrab dikenal “Siborang”, mataharipun enggan tuk menampakkan diri sehingga pagi itu membuaiku tertidur lelap. “ Dengarkanlah wanita pujaanku malam ini akan ku sampaikan…”  lantunan lagu ini terus mengusik tidurku  yakni lagu janji suci by Yovie and Nuno. Sekali dan  duakali aku masih mampu mengabaikan lantunan janji suci yang  terus mengusik  telingaku itu. Akan tetapi, untuk kesekian kalinya aku terpaksa bangun dan mencari sumber suara lagu itu  yakni dari handphoneku. Kubuka layar handphoneku ternyata “Dani memanggil”. secepatnya Ku tekan tombol Okay serta ku aktifkan loudspeaker handphoneku langsung terdengar suara  “Woi Rizal lagi dimananya kau nek?, dah jam 9.00 ne, dah masuk kita, Kelas nggak rame kalau nggak datang ko, datang cepat ya”, teriak si Dani.  “Iya bentar, baru bangun aku. Tunggulah setengah jam lagi nyampeklah aku, Okay nek”,  jawabku dengan suara yang masih serak-serak basah. Dani, wak Leman, bang Andes dan Sahril adalah teman akrabku, Jadi wajar jika aku tidak hadir mereka merasa kehilangan. Sedangkan panggilan nek dan wak adalah panggilan akrab yang sering digunakan untuk menyapa akrab teman-teman akrab di Padangsidimpuan( untuk yang pertama kalinya akupun merasa janggal dan asing  mendengar sebutan ini karena selama ini yang aku tahu nek atau wak adalah panggilan tuk orang yang sudah tua).

Aku beranjak dari tempat tidurku  dengan perasaan malas. Namun, bayangan teman-teman akrabku telah mengisi ruang memoriku yang membuatku  tak sabar lagi  untuk bekerjasama membuat keributan di dalam kelas sehingga  mendorongku untuk bergegas secepatnya. Tepatnya pukul 9.30 WIB,  aku telah siap dengan peralatan kampusku, kendatipun hanya sebuah pulpen dan sebuah buku catatan 30 lembar. Namun, sang perut terus berbunyi “kruyuuuk kruyuuuk” ,seolah-olah membisikkan rangkaian kata ” aku lapar… diisi dulu, sebelum berangkat”, kepadaku. Akan tetapi, aku tak menghiraukannnya karena dalam hatiku bergumam, “ nanti sampai di kampus kan bisa diisi di kantin”. Sementara Hujan yang tak kunjung reda membuatku tak bisa  berangkat  dengan sepedamotorku, “yah terpaksa naik angkot nih”, bisikku dalam hati. Jarak dari Rumahku menuju jalan raya untuk menunggu angkutan umum memang tidak terlalu jauh namun dengan rintihan hujan  di pagi itu masih dapat membuatku basah kuyup. Oleh karena itu, aku hanya bisa duduk manis di beranda rumahku yang disibukkan oleh jemari lincahku untuk mengetik dan mengirim sms kepada teman-temanku  seraya mencari ide agar tidak basah kuyup sesampainya di jalan raya nanti. Kemudian, seorang siswi Kesuma Indah yang di atas kepalanya diteduhi sebuah payung muncul dari balik pagar besi menghampiri  jualan kakakku, kebetulan kakakku berjualan kecil-kecilan  di beranda rumah kami yakni berupa alat-alat sekolah, makanan ringan,  kebutuhan sehari-hari dan lain sebagainya serta kebetulan juga  SMA Kesuma Indah posisinya tepat  di depan rumah kami. “Kak…beliklah”, teriak siswi tersebut, “beli apa?”, tanya kakakku. “Penggaris satu, jangka satu, penghapus satu dan busur satu kak”, jawab siswi itu lagi. Seraya menunggu  kakakku mengambil semua pesanannya, aku memotong pembicaraan mereka seraya melontarkan beberapa pertanyaan. “Dek, lagi  belajar matematika, ya?” tanyaku dengan sok akrab. “Iya bg”, jawabnya dengan singkat, “terus kok bisa keluar dek?”, tanyaku lagi. Maklum sekolah kesuma Indah itu sekelilingnya dipagari oleh besi-besi yang menjulang tinggi layaknya sebuah penjara. “ Tadi permisi bang ma guru matematikanya mau beli peralatan sekolah ne”, sahutnya lagi. Kemudian, kakakku tiba-tiba muncul  memotong pembicaraan kami seraya  memberikan pesanan siswi tersebut.

Sebelum siswi yang belum ku kenal namanya itu beranjak dari jualan kakaku. “Dek Payungnya cantik kali yah sama seperti orangnya”, pujiku kepada siswi tersebut. “Ah nggak ah bang biasa aja“  jawabnya. “jangan mau digombal-gombalnya dek, mau minjam payungmu itu tujuannya, mau berangkat kuliah dia”, seru kakakku seraya tertawa kecil. Yah begitulah kakakku karena selalu saja ingin ngerjaiin aku. “Ehemmm…hem..Dek bang bisa minta tolong, nggak?”, tanyaku. “minta tolang apa bang?”, jawabnya. “Bang mau berangkat kuliah dek tapi hujannya belum reda dari tadi, tolong dong antarin bang ke jalan raya”, mau kan?”, tanyaku dengan nada memohon kepadanya. Sejenak dia diam dan memandang ke arah  kakakku. Kakakku mengedipkan matanya kepada siswi tersebut sambil tertawa kecil dan berbisik “jangan mau dek”. Dia berdiri terpaku dan sedikit agak bingung. Akhirnya, Aku langsung saja berteduh dibawah payungnya tepatnya di samping kirinya dan berkata, ” ayoklah bentar aja ya dek nggak usah dengarin kakakku itu”, dengan sedikit memaksa. Tanpa sepatah kata kami pun berjalan menuju jalan raya.

Sesampainya dijalan raya, tepatnya didepan usaha  Karya Serasi  atau lebih umumnya di  depan Pabrik es, sebuah angkot  bernomor 02 dan berwarna kuning muncul. Spontan aku melambaikan tangan kananku sebagai isyarat memberhentikan angkot tersebut. dengan keadaan sedikit basah, aku menaiki angkot itu. Sesampainya di pasar Sagumpal tepatnya di Rajawali (sebutan akrab dipasar tersebut) aku turun dari angkot tersebut karena aku harus menaiki angkot jurusan lain yakni jurusan Sitataring atau jurusan menuju Kampusku:“Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan”. Kemudian, Ditengah-tengah keramain pasar dan rintik-rintik hujan yang masih berjatuhan, aku menaiki sebuah angkot  bernomor 03 dan berwarna putih yang sedang parkir didekat Tugu Rajawali  seraya menunggu sewa (angkot bernomor 03 dan berwarna putih adalah jurusan menuju kampusku). Di dalam angkot tersebut telah diisi oleh 5 penumpang, yakni seorang mahasiswa yang berada di ACC, dua orang mahasiswi di barisan bangku sebelah kanan tepatnya dekat pintu masuk, seorang nenek di sudut barisan bangku kiri, dan seorang pria dewasa di belakang sopir. Dengan perasaan campur aduk yakni penyesalan bangun telat, finish dikampus yang akan telat, dan hujan yang tak kunjung reda, aku menaiki angkot itu dan mengambil posisi tepatnya di sebelah nenek paling sudut  kiri. Berselang dua menit ba’da aku masuk ke dalam angkot, tampak dari kejauhan dua gadis  berlari-lari untuk menghindari rintihan  hujan menuju angkot tersebut dan mengambil tempat duduk di bagian paling sudut barisan bangku sebelah kanan. Dengan posisi mereka seperti itu, otomatis aku harus face to face dengan salah-satu dari mereka. Gadis yang duduk tepat di depanku  tersebut memakai kebaya putih lengkap dengan jam tangan menghiasi tangan kiri, sebuah cincin putih di jari manis tangan kiri  yang bertuliskan huruf love, beberapa  gelang di pergelangan tangan kanannya, dan tak luput sebuah dompet yang dipegangnya hati-hati dengan tangan kanannya. Nampaknya gadis tersebut baru pulang dari sebuah pesta. Disamping itu, Gadis itu mempunyai rambut lurus yang terurai sampai pinggangnya dan dia kelihatan tambah anggun setelah beberapa tetesan hujan membasahi rambutnya, berkulit sawo matang, bulu mata yang lentik, muka lonjong, hidung agak sedikit mancung, bibir tipis yang dihinggapi sedikit tetesan air hujan karena mengalir dari mukanya serta ada satu tahi lalat kecil diatas bibirnya. Seraya berbisik-bisik dengan temannya dia menyapu lembut air yang masih menempel dimukanya dengan beberapa lembar tisu halus. Tak lama kemudian, sang sopirpun melajukan angkotnya. Hujan nampaknya mulai reda namun suasana di dalam mobil nampak begitu hening tak ada suara bisik-bisik dan  suara percakapan penumpang lagi. Di celah-celah keheningan selama perjalanan, aku ambil kesempatan untuk mencuri-curi pandang gadis yang berada di depanku. Sejenak aku memandangnya ketika dia menoleh ke kiri. Dengan perasaan ada yang mencuri pandangannya tanpa izin, sang gadis pun membalas pandanganku. Namun, sebagai seorang pencuri  (pencuri pandangan he..he..) aku harus mengeluarkan jurus andalanku yakni dengan mengalihkan pandanganku ke arah nenek yang berada disampingku ketika dia memberi balasan  pandangan itu. Hal itu  kami lakukan berulang-ulang. Namun, pada suatu momen yakni ketika aku  sedang mengalihkan  pandanganku ke arah nenek itu  sambil  memperkirakan  dia sedang menoleh ke kiri atau ke kanan , hatiku terus mendesak, ” ayo pandang dia lagi …lihat dia begitu jelita dan anggun, nanti kamu menyesal tak dapat memandangnya lagi”. Spontan aku mengikuti kata hatiku. Ketika aku mulai memandangnya ternyata dia tengah menunggu pandanganku dari tadi. Tiba-tiba pandangan kami bersatu dan dia hanya menghadiahi aku dengan sebuah senyuman manis  seolah-olah didalam hatinya berkata kamu kalah. Dia pun membisikkan sesuatu kepada kawannya, sesuatu itu mungkin kejadian yang baru saja terjadi atau yang lainnya. Aku tersipu malu dan terdiam serta tak mampu memandanginya lagi. Akan tetapi, ternyata dia ketagihan untuk bermain petak umpet pandangan sehingga dia mencuri-curi  pandang padaku. Ketika aku diam terpaku, nenek yang berada disampingku dalam keadaan ngantuk berat sehingga nenek itu menyandarkan kepalanya ke atas bahuku. “Wah nggak bisa ini, naas kali bagianku ini”, gumamku dalam hati, perlahan kugeser posisiku sedikit ke arah kanan sehingga nenek itu tersentak bangun. “Maaf yak nak nenek capek habis belanja tadi”, ujar  nenek tersebut. “Oh…nggak apa-apa nek he..he…” jawabku sembari memberi senyum yang kurang ikhlas. Gadis itupun memanfaatkannya dengan tertawa kecil sembari memandangiku karena adegan itu. Dari simpang STKIP Tapsel telah nampak pohon-pohon sawit yang berbaris rapi di tepi jalan menandakan aku akan sampai di kampusku. Sebelum turun dari angkot  kurobek secarik kertas kecil dari buku 30 lembarku. Ku torehkan diatas kertas tersebut dengan rangkaian kata “Gadis Penebar Senyum Engkau Telah Mencuri Hatiku,”. Sesampainya di depan kampus, “pinggir bang”, perintahku pada sang supir. ketika hendak keluar kujatuhkan kertas kecil yang telah kutulis tadi ke atas pangkuan gadis itu seraya tersenyum manis kepadanya.

Setelah sampai didalam kelas, ku lihat teman-teman sekelasku duduk acak-acakan disana-sini sambil berbagi cerita dan tawa menandakan dosen kami belum datang. Langsung saja aku bergabung dengan teamku yakin Dani, Wak leman, Bang Andes dan Sahril. “aku dah laper banget nih, kantin yuk”,  kuajak mereka dengan sedikit memaksa. Nah, sambil ngemeal dikantin kuceritakan pengalamaku yang diangkot tadi kepada mereka. Namun, mereka tak pernah mau kalah untuk adu cerita maka ceritaku dipotong begitu saja. Maklum, karena mereka menganggap pengalaman mereka selalu top of the top. waktu terus bergulir jam tanganku menunjukkan pukul 10.00 WIB. Tiba-tiba sebuah SMS mengisi handphone bang andes yang berisi” bang udah masuk kita bang”, dari Fai. Yah terpaksa back to class.

Ba’da menjalani proses perkuliahan hingga jam 13.30, kami pun pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah kulampiaskan semua perasaan nano-nano ku yakni kesal, bosan, senang dan jengkel dengan merebahkan tubuhku ke atas kasurku. Yah aku harus beristrahat sejenak sembari menunggu waktu tuk mengajar di sebuah tempat kursus yaitu di sentika jam 14.30 WIB nanti.  Namun, tak seperti biasanya aku tak mampu mati sejenak atau tertidur  karena adegan-adegan yang  telah terjadi diangkot tadi selalu mengisi ruang memoriku. Tepatnya jam 14.15 “It’s time to teach”, alarm handphone ku berbunyi seolah-olah menyuruhku tuk bergegas. Yah akupun langsung  bergegas dan meluncur ke Sentika. Seraya menunggu para murid lesku datang aku duduk-duduk  santai didepan ruang parkir les tersebut. Teeeet,teeet,teeeet”, bel telah berbunyi mengisyaratkan anak-anak harus bergegas ke dalam ruangan untuk mengisi kelas masing-masing. Aku masih sibuk membuka lembaran-lembaran buku untuk mengulas materi yang akan aku ajarkan. Di celah-celah keseriuasanku, Seorang gadis dewasa memarkirkan  sepedamotor beat merahnya  di depan gedung kursus dan dibelakangnya diikuti seorang gadis mungil turun dari sepeda motor itu. Si gadis mungil dengan terburu-buru menyalam tangan kakaknya dan bergegas masuk ke dalam kelasnya. Aku pun segera beranjak dari tempat dudukku tapi kakiku diam terpaku seraya melototi si gadis yang menunggangi beat merah. Ya dia adalah gadis yang beradu perang pandangan di angkot tadi. Dalam hatiku bergumam,” ini kebetulan atau takdir”?. Sang gadis pun memandangiku dengan perasaan kurang percaya seakan-akan di dalam hatinya berbisik” apa iyah pria berpenampilan acak-acakan ini yakni seorang pria dimana susunan rambutnya seperti menara yang dibawa kemana-mana dan  memakai sandal adalah  salah-satu instruktur di kursus ini. Kemudian dia bertanya, “Kamu intstruktur disini?”. Ntah kenapa mulut ini rasanya seperti dilem sehingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun padahal aku begitu cerewetnya ketika mengajar di depan murid-muridku. Aku hanya bisa menunduk sebagai isyarat mengiyakan. Dia memandangiku dengan serius dan menebarkan senyum manis. Bibir tipisnya melebar diikuti pipinya sedikit berkerut serta sorotan mata yang penuh arti adalah motif yang memikat hatiku. Akupun menunjuk jam tanganku dan menunjuk ke arah ruangan sebagai isyarat aku harus masuk ke dalam kelas dulu. Diapun mengangguk sembari memberikan senyuman manis perpisahan seolah-olah ingin mengucapkan “semoga mengajarnya sukses ya”. “Ehem..Tunggu dulu”, perintahnya   padaku sembari mengambil robekan kertas kecil yang sudah berkerut dari dompetnya dan menuliskan beberapa rangkaian kata serta menunjukkannya kepadaku. “Kamu Telah Mencuri Pandanganku” adalah rangkaian kata yang ditulisnya dibalik tulisan “Gadis Penebar Senyum Kamu Telah Mencuri  Hatiku”. Ya kertas itu adalah kertas yang ku jatuhkan di atas pangkuannya tadi pagi sehingga membuatku tersipu malu. Lantas dia menyimpan kertas itu kembali ke dalam dompetnya dan menebarkan senyum untuk terakhir kalinya seraya menunggangi Beat merahnya. Dengan semangat empat lima aku pun masuk ke dalam kelas untuk menuntaskan amanahku yakni mentrasnfer pengetahuanku kepada murid-muridku.

 

 

Hari itu adalah hari sabtu jam 14.00 WIB aku mengunjungi tempat kursusku khusus untuk menerima gaji bulananku. Hari itu Sudah menggenapkan satu tahun lamanya aku berbakti di tempat kursus itu. Ternyata karirku harus berhenti sampai disitu. Sang pimpinan berujar padaku “ Pak Rizal, kondisi saat ini, kita kehilangan banyak murid. Jadi kamu harus bersabar karena kita harus menyeimbangkan jumlah instruktur dan murid di kursus ini. Untuk saat ini kamu harus pensiun dulu”.”iya nggak apa-apa, pak” jawabku dengan perasaan sedikit kecewa. Ada tiga motif kekecewaan bagiku yakni kenapa harus aku yang dipensiunkan, aku tak mampu bercanda tawa lagi dengan murid-muridku, dan harapanku tuk bertemu dengan gadis yang selalu menebarkan senyuman kepadaku pupus begitu saja. Semenjak hari itu, lembaran hari-hariku berlalu dengan torehan sikap dingin, pendiam, dan cuek  kepada keluarga dan temanku. Perilaku ini berlalu hingga dua minggu sebagai realisasi  penenang jiwaku. Kalau hanya sebatas mengajar aku masih punya wadah cadangan yakni di Era English Course. Akan tetapi kemana aku harus mencari dan menjelajahi senyuman gadis itu?

Disela-sela keseriusanku mengetik skripsi sebuah SMS mengisi inbox handphoneku yang berisi “Bagaimana kabar pak guru?”. SMS itu dikirim oleh ibu Ijah yang menjadi rekan kerjaku di tempat kursus. “ alhamdulillah baik buk”, ibu sendiri bagaimana kabarnya?, balasku seraya menanyakan keadaannya sebagai basa-basi. “ Alhamdulillah baik juga, pak” sahutnya. “bagaimana keadaan kursus Buk?”, tanyaku. “itulah pak banyak murid kita yang berhenti pak, terutama karena bapak nggak ngajar lagi kata anak-anak pak”, sahutnya. Sejenak hatikupun merasa senang karena masih ada yang merasa kehilangan sosokku. ” Si Dinapun Nggak ikut lagi kursusnya?”, tanyaku lagi dengan perasaan ingin tahu. Dina adalah salah – satu muridku yang cerdas dan kebetulan gadis itu adalah adik si gadis penebar senyum. “iya diapun dah mulai malas datang semenjak mendengar bapak nggak ngajar lagi disini, terus cerita dari teman-temannya kakaknya nggak mau ngantarinnya lagi katanya”, balasnya. ”Oh gitu yah, he..he…Oklah aku mau lunch dulu ni, makasih yah dan  semoga tetap jayalah tempat kursusnya”, balasku. “iya gitu…sama-sama.Amin!!!”, balasnya lagi. Sembari makan siang akupun tersenyum-senyum sendiri karena teringat isi sms tadi sehingga membuatku Grrrrr.” ternyata anak-anak masih mengenangku juga dan si gadis penebar senyum manis itu mungkin merasa malas mengantar adiknya Dikarenakan ketidak hadiranku..ha…ha…”, bisikku dalam hati dengan penuh self-confidence.

Wahai gadis penebar senyum dimanakah engkau berada? Adakah engkau membagi senyummu kepada orang lain atau engkau simpan untuk dipersembahkan padaku, rangkaian kata ini selalu menghiasi hatiku sampai sekarang. Dimana dan kemana aku harus melihat senyuman manismu lagi. Aku harap kita dapat bersua kembali untuk yang ketiga kalinya untuk  tertawa puas dengan membaca robekan kertas kecil itu.

 

 

LOVE ALA REMAJA PADANGSIDIMPUAN

Standar

Padangsidimpuan merupakan salah-satu  tempat yang strategis di sumatra Utara. Salah-satu wujud dari kestrategisan itu dibuktikan dengan ragam etnis yang mendiami kota tersebut. Disisi lain padangsidimpuan juga dihiasi dengan pusat pendidikan yang lumayan bagus sehingga mengundang banyak pendatang dari berbagai daerah.

Sesuai dengan topik kita yakni  “remaja”, mereka  tidak terlepas dengan istilah” love ” yang merupakan masalah yang marak bagi para remaja.  Pada kesempatan ini, saya harus menggarisbawahi bahwa fakta-fakta yang akan saya sodorkan bukanlah memvonis untuk semua kaum remaja akan tetapi SEBAGIAN BESAR. Selanjutnya,batasan istilah remaja atau teenager yang harus kita pahami yakni mereka yang masih berumur belasan tahun.

Ba’da menjalani rutinitas sehari-hari selama 4 tahun dua bulan di kota salak ini, Banyak kenangan dan pengalaman yang telah tersusun rapi dalam suatu ruang memoriku. Pada kesempatan ini, saya ingin menyodorkan sedikit fenomena yang saya dan  kawan-kawan amati. Ba’da berbagi cerita dan interview dengan para remaja kota Salak banyak fenomena-fenomena cinta yang dapat saya simpulkan. Pada kesempatan ini, mari kita jelajahi dari hal-hal yang paling kecil. Sebagai contoh kecil: jikalau di pagi hari jam 07.00 WIB lalu-lalang para laskar putih abu-abu telah marak di jalan raya kota salak ini menuju suatu tempat penimbaan ilmu sebut saja sekolah. Layaknya seorang pangeran dan ratu yang sedang beradu mesra diatas besi-besi yang di tempa dan dihargai tinggi oleh manusia sebut saja sepeda motor, sekilas kita juga beranggapan bahwa mereka adalah kakak-adik yang mempunyai pertalian darah. Iya memang benar, akan tetapi, tidak sedikit mereka adalah  yang tak mempunyai hubungan apa-apa melainkan hanya STATUS PACARAN yang ntah kapan dan siapa yang menobatkan status mereka. Selanjutnya, 7 dari 10 responden khususnya remaja kaum hawa andaikan ingin memilih dan memilah kaum adam syarat yang menjadi fundamental adalah Keretanya apa?, bapak atau ibunya siapa? atau bahkan pekerjaannya apa seolah-olah mereka ingin pacaran dengan sepedamotornya, ibu atau bapaknya atau bahkan pekerjaannya.

Malam Kamis dan malam Minggu merupakan momen pacaran yang sangat spesial bagi remaja Padangsidimpuan dan bahkan sudah lumrah secara nasional yang seolah-olah hari itu menuntut harus menjadi hari nasional Indonesia he..he..he…mungkin kawan-kawan, adinda-adinda, saudara/i dan bapak/ibu pernah menjadi pelaku utama dalam menyebarkan atau memperluas budaya love ala padangsidimpuan ini.

Angin sepoi-sepoi Jalan baru atau lebih populernya JB dan tempat yang masih sedikit penghuninya disiang hari serta suasana dingin dan gelap-gulita simarsayang mengundang para remaja kota salak untuk saling menghangatkan layaknya “induk ayam yang sedang mengerami anak-anaknya”. Namun, pada hal ini, agak sedikit berbeda yakni ala mengerami antara induk dan induk…ha..ha..ha…Tidak sedikit juga para remaja yang menerapkan ala silaturrahmi yakni remaja laki-laki mengunjungi rumah remaja perempuan untuk saling berbagi tawa. akan tetapi yang lebih lucu, aneh dan menyedihkan begitu banyak pondok-pondok kecil yang berbaris rapi dan sengaja  dibangun  di tepi jalan baru, simarsayang, parsalakan, dan bukit teletabis sana. Dan Tahukan anda kenapa saya katakan aneh? karena Pondok-pondok ini dapat bergoyang-goyang pada malam hari..ha..ha…

Yang lebih lucunya lagi,begitu banyak para remaja Padangsidimpuan yang berkeluh-kesah,mempopulerkan pasangannya dan mencari pasangan melalui dunia maya yakni facebook, twitter dan jaringan sosial lainnya. Seolah-olah semuanya orang-orang harus tahu. “Dia mencitaiku, dia telah pergi meninggalkan aku, dia tak lagi mencintaiku , aku sedang di pondok ini dengan si anu, Ya Allah aku sayang dia jodohkanlah aku dan lain sebagainya”, hal-hal ini sudah menjadi lumrah tuk dikumandangkan di dunia maya  bagi para remaja kota salak ini.

Tahukah anda sesuai dengan judul kita “love ala remaja Padangsidimpuan “ begitu banyak  menyebabkan pergeseran budaya yang telah merosot bagi remaja kita. memang love adalah anugerah bagi manusia dan masa remaja adalah masa pancarroba yakni masa ingin tahu bagi mereka. Namun, haruskah kita selebrasi dengan ala yang telah dan sedang dilakukan sekarang yakni mempopulerkan sang kekasih kepada dunia..ha..ha…seolah-olah ingin mempertunjukkan inilah pacarku. sehingga muncul wacana nggak punya pacar nggak gaul dan keren.

 

kawan-kawan saya takut nanti remaja padangsidimpuan banyak yang berstatus gadis namun sejatinya telah janda…..

 

Peace!!!

 

SEKILAS DIBALIK USIA KE-23KU

Standar

Disaat aku masih tertidur lelap di peraduanku, tepatnya jam 00.00  , aku terbangun oleh nada sms handphoneku. Dengan perasaan agak jengkel kubuka inbox HP ku.secepat kilat rasa jengkelku  menjelma menjadi  suka ba’da membaca ucapan ” Happy birthday” dari seseorang. aku hampir saja lupa ternyata hari itu yakni 03 November 2012 adalah hari ULANG TAHUNKU yang ke-23 . Terima kasih ya Robbi atas jatah hidup yang Engkau limpahkan kepadaku” gumamku dalam hati seraya bersujud di tempat tidurku.

ternyata sekarang umurku  sudah mencapai 23. Sebuah momen kedewasaan  yang harus aku lalui, ditengah kegamangan dan disorientasi kehidupan. Namun, ini harus aku  lalui dengan kembali merefleksikan makna dari ulang tahun yang hampir seluruh manusia alami. dengan angka 23 ini telah menuntutku untuk  dihargai dengan hak-hak kedewasaan yang kumiliki, dimana telah terselip kewahiban kedewasaan yang harus aku  jalani dan penuhi dalam realitas kehidupan keluarga dan masyarakat sebagai hakekat bertambahnya usiaku.

kembali kepada momen tengah malam itu, yakni sebuah perjalanan waktu  yang telah menggenapkan usiaku yang ke_23  kuhabiskan dengan   bernostalgia bersama si dia yakni  masa laluku , bukan untuk kesia – siaan, bukan untuk melenakan, tapi untuk sekedar memutar ulang rekaman kehidupanku 23 tahun yang silam. banyak  kisah yang pernah terukir di masa lalu, kemudian tersimpan rapi dalam ruang memori, kini hadir di pelataran jiwa. Menyuguhkan adegan demi adegan sempurna yang akhirnya membuat diri ini harus merenung. Sejenak aku tertawa dengan adegan-adegan bodoh yang pernah kuperbuat khususnya adegan-adegan cinta yang sampai saat ini menjadi teka-teki perasaanku yang belum jua kutemukan jawabannya. Masa SD, SMP, SMA bahkan kuliah aku tak pernah mampu mengisi puzzle hatiku dengan pasangan yang  ideal. apakah sifat selektifku, sifat pemaluku, ataukah apakah titahan laskar patah hati yang telah menjadi nasibku…..tapi sampai kapan?

Namun,  beberapa saat kemudian aku merasa duka mengenang dosa-dosaku yang telah bertumpuk. akankah aku masih diberi jatah hidup untuk memperbaiki diri, untuk menggapai cita dan cintaku dan untuk mempersembahkan janji-janjiku kepada orang-orang yang aku sayangi yakni keluarga?

 

akhirnya renungan usiaku yang ke-23 bermuara dengan  hadis Nabi yang menyuruh untuk selalu lebih baik dari hari ke hari untuk Meretaskan diri menuju kehidupan terbaik . Mengoreksi dan memilah mana kesalahan atau kebodohan yang pernah aku lakukan agar tak terulang di hari ini dan esok. Untuk setiap dosa yang pernah tercipta agar aku “menebusnya” di hari ini dan esok dengan prilaku terbaik dan ketaatan yang sempurna.

Kita dan Masa Depan…

Standar

di kala kecil bunda kita sering bercerita “kelak kamu harus menjadi orang berguna”…dan kita juga sering bersuka-ria dengan teman” kita tentang gambaran hidup kita kelak….dikala masa sekolah dasar kita sering ditanya cita”mu apa nak?…ada yang menjawab denga percaya dirinya mau jadi polisi, penyanyi, dokter, dan lain-lain…namun masih banyak juga yang kebingungan…setelah di masa SMP n SMA bahkan kuliah ternyata cita” tersebut dapat juga berubah…nah jadi masa depan itu gimana sih?…hari ini adalah bagian masa depan kita, esok dan lusa….namun bagimana kita merealisasikan titik demi titik masa depan tersebut hingga mencapai titik puncak…yang kita harapakan yakni cita”….

Torehan Hati

Standar

layaknya sebuah ruang belajar  deretan buku diatas rak yang usianya mulai senja, alat tulis  ,diary yang selalu terdampar diatas meja belajar serta sebuah laptop yang mulai usang menghiasi ruang belajar tersebut.setiap usai shalat isya seorang lelaki 22 tahunan,agak kurus dan rambut yang selalu acak-acakan acapkali duduk diatas sebuah kursi  rotan mengisi ruang belajar tersebut.lelaki tersebut adalah aku.malamku banyak kuhabiskan diruang tersebut

kronologis keseharianku semenjak dua silam yang lalu lembaran waktuku tergores dengan tinta kisah kesepian(lonely).jika  ayam telah berseteru membangunkan anakcucu adam aku biasanya selalu terbangun dari peraduanku . kuawali dengan membasuh muka ku serta  bersiap2 untuk menghadap ilahi,kusibukkan pagiku lari lari kecil usai subuh hingga pagiku finish di kampus. jika pagi aku duduk di belakang  siang berdiri di depan,siang selalu kuhabiskan berinteraksi dengan siswa -siswa SMP dan SMA di suatu bimbingan belajar….dimalam hari ku harus berpapasan muka dengan anak-anak SD tepatnya mengajar mereka membaca Al-qur-an hingga isya .

setelah duduk di  semester III aku pernah menaruh hati kepada seorang wanita.tepatnay dia adalah adik kelas ku .dia hitam manis,bibirnya tipis rambutnya panjang dan langsing.itu merupakan kreteria gadis impianku sehingga dia begitu spesial bagi ku.disamping itu dia juga merupakan urutan ketiga wanita yang pernah mengisi ruang hati ku seumur hidupku.saat itu hari-hari ku terasa bahagia.Sayangnya,mental ku dari  dulu aku selalu menyimpan perasaan ku.sampai2 gadis yang mengisi hatiku pada urutan kedua waktu SMA lepas begitu saja padahal dia begitu mengagumiku karena  jarang wanita yang mau pertama mengungkapkan perasaannya .singkat cerita .suatu hari kuberanikan diriku tuk menitip salam kepada bidadari yang belum ku kenal namanya tersebut.esoknya  dia merespon titip salam ku.aku begitu bahagai.hingga kami mulai akrab walaupun hanya saling menebar senyum jika berpapasan muka .hari demi hari ku menunggu waktu yang tepat untuk ngobrol dengan gadis tersebut.hingga pada hari jum’at kuberanikan ngobrol denganya. dengan menyembunyikan perasaanku kubuka pembicaraan dengan menyeleweng ke kegiatan mahasiswa bahasa inggris(kebetulan aku merupakan ketua ikatan mahasiswa bahasa inggris hingga sekarang ).Awalnya kami jalani hubungan sebagai kakak kelas dan dik kelas dengan begitu mulus.dia begitu jujur,ramah dan periang.akhirnya seiring bergulirnya waktu perlahan-lahan dia dapat membaca perasaankuh.Namun apa responnya???………………..semenjak itu dia selalu berusaha menghindari ku padahal aku belum pernah ngomong apa2 tentang perasaanku.ternyata dibalik itu semua dia begitu angkuh dan kasar.karena dia terlahir  makan dengan sendok emas ternyata dia menyombongkon itu semua.bahkan dikelasnya sendiri dia malu berteman dengan orang kalangan menengah ke bawah.termasuk aku kakak kelasnya yang terlahir dengan kesederhanaan otomatis perasaanku minder dan down.ku tak menyangka begitu angkuhnya dia…………….terpaksa perasaan itu harus kukubur dalam-dalam.semenjak kejadian itu aku trauma untuk menaruh hati kepada seorang wanita hingga selama di bangku perkuliahan ku ini ku tak pernah mengecup cinta seorang wanita………dari kejadian itu pagi kuh kuliah siang ku ngajar dan malam kuhabiskan curhat dengan diary,menulis artikel,belajar tak peduli malam kamis atau malam minggu……………….

English Speech

Standar

ASSALAMU’ALAIKUM WR. WB.

Honorable:

The principle of TK…..

The teachers

The staffs………..

 

All my beloved friends and the audiences ….

.           First of all, let us praise to the Almighty Allah SWT, because of His Blessing we are able to come here, to attend a farewell ceremony for the students of  TK ………………

Secondly, may Shalawat and Salam be upon the Prophet Muhammad SAW who has guided us from the darkness into the brightness.

Ladies and Gentlemen, Brothers and Sisters and the audiences

 

In this good opportunity, I stand here to represent all the students of TK ………………….to give a farewell  speech.

Firstly, we would like to say thank you very much for all the teachers of TK……………………. who have taught and guided us so that we can be  educated students. Thank you very much for your dedication. We know that your advice and guidance have made us better not only in thinking but also in attitudes. My teachers… we realize that we cannot give you reward. We can only give you gratitude and pray. May God repay your kindness. May God always bless you all…

Secondly , especially to our younger brothers and sisters in TK………………. , we would like to remind you, please keep studying hard, obey your teachers’ advices, try to be better than us. And, please pray for us to be able to reach our goal……………… so that someday we will become successful and useful persons for our Family, our country and our society.

 

Ladies and Gentlemen, Brothers and Sisters and the audiences…………

 

I think that’s all my farewell speech. As the proverb says” to error is human” .I am so sorry for all my wrong words. The last, on the behalf of students TK……………………., once again, I would like to say: forgive us… remember us… pray for us,. Thank you very much.

 

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

 

it’s about Me

Standar
VOCABULARY

Enemy at the gates — Matte ho, nga ro !
Remember the Titans — Ingot hamu partompaon i
The Italian Job — Parbola
Die Hard — Dang ra mate
Die Hard II — Tong, dang olo mate
Die Hard III — Dang marna mate fuang !!
Bad Boys — Si roa balangs
Sleepless in Seattle — Markombur di radio, dia boi modom ?
Lost in Space — Dibondut banua holling
X-Men — Pantang so bilak
X-Men 2 — Tong sai pabilak-bilakhon
The Brotherhood of War — Manat Mardongan-tubu
Paycheck — Bayar habis panen ma i, bah!
Independence Day — Agustusan
The Day After Tomorrow — Haduan
Die Another Day — Dang jadi mate sadarion
There is Something About Marry — Si Maria Pargabus
Silence of the Lamb — Hambing Parhohom
Planet of the Apes — Huta ni Bodat
Gone in Sixty Second — Marimpot-impot
Freddy vs Jason — Peredi VS Jekson
Air Bud — Panangga (biang)
How To Lose A Girl in 10 Days — Topar
Lord Of The Ring — Tulang. (ai tulang do si jalo tintin marangkup )
Deep Impact — Hansit naii
Million Dollar Baby — Ai sajuta arga ni Babi saonari?
Blackhawk Down — Lali lao manangkup manuk
Saving Private Ryan — (Ai ise si Ryan on? So ditanda batak goar ‘rian’. Peredi, Jekson, Mikael, Ultop, … dll.)
Dumb and Dumber — Lam Loakon
The Collateral — Si Padalan Hepeng
Braveheart — Parate-ate
Payback — Garar Utangmu
My Greek Big Fat Wedding — Muli Sikobol-kobol
I Know What You Did Last Summer — Datu
I Still Know What You Did Last Summer — Unang gabusi ahu, hutanda do ho Ito
Cold Mountain — Dolok Sanggul ma i…
Any Given Sunday — Marminggu Hamu Fuang
Beautiful Mind — Nipi Nama i
Drunken Master — Parmitu
The Gift — Durung-durung
Lion King — Sisingamangaraja
Mr. & Mrs. Smith — Smith Dohot Oroan na
Rest In Peace — Dison Do Maradian (bah, judul film apa pulak lagi ini?)
Run Away Jury — Martabuni Ho Tulang a
Step Mom — Inang Panirang-Nirangan
Band of Brother — Dongan Sabutuha, Dongan Sapargaulan
2 Fast 2 Furious — Manat-manat di dalan