GADIS PENEBAR SENYUM
Pagi itu Padangsidimpuan diguyur hujan, tanpa terkecuali di daerahku yang lebih akrab dikenal “Siborang”, mataharipun enggan tuk menampakkan diri sehingga pagi itu membuaiku tertidur lelap. “ Dengarkanlah wanita pujaanku malam ini akan ku sampaikan…” lantunan lagu ini terus mengusik tidurku yakni lagu janji suci by Yovie and Nuno. Sekali dan duakali aku masih mampu mengabaikan lantunan janji suci yang terus mengusik telingaku itu. Akan tetapi, untuk kesekian kalinya aku terpaksa bangun dan mencari sumber suara lagu itu yakni dari handphoneku. Kubuka layar handphoneku ternyata “Dani memanggil”. secepatnya Ku tekan tombol Okay serta ku aktifkan loudspeaker handphoneku langsung terdengar suara “Woi Rizal lagi dimananya kau nek?, dah jam 9.00 ne, dah masuk kita, Kelas nggak rame kalau nggak datang ko, datang cepat ya”, teriak si Dani. “Iya bentar, baru bangun aku. Tunggulah setengah jam lagi nyampeklah aku, Okay nek”, jawabku dengan suara yang masih serak-serak basah. Dani, wak Leman, bang Andes dan Sahril adalah teman akrabku, Jadi wajar jika aku tidak hadir mereka merasa kehilangan. Sedangkan panggilan nek dan wak adalah panggilan akrab yang sering digunakan untuk menyapa akrab teman-teman akrab di Padangsidimpuan( untuk yang pertama kalinya akupun merasa janggal dan asing mendengar sebutan ini karena selama ini yang aku tahu nek atau wak adalah panggilan tuk orang yang sudah tua).
Aku beranjak dari tempat tidurku dengan perasaan malas. Namun, bayangan teman-teman akrabku telah mengisi ruang memoriku yang membuatku tak sabar lagi untuk bekerjasama membuat keributan di dalam kelas sehingga mendorongku untuk bergegas secepatnya. Tepatnya pukul 9.30 WIB, aku telah siap dengan peralatan kampusku, kendatipun hanya sebuah pulpen dan sebuah buku catatan 30 lembar. Namun, sang perut terus berbunyi “kruyuuuk kruyuuuk” ,seolah-olah membisikkan rangkaian kata ” aku lapar… diisi dulu, sebelum berangkat”, kepadaku. Akan tetapi, aku tak menghiraukannnya karena dalam hatiku bergumam, “ nanti sampai di kampus kan bisa diisi di kantin”. Sementara Hujan yang tak kunjung reda membuatku tak bisa berangkat dengan sepedamotorku, “yah terpaksa naik angkot nih”, bisikku dalam hati. Jarak dari Rumahku menuju jalan raya untuk menunggu angkutan umum memang tidak terlalu jauh namun dengan rintihan hujan di pagi itu masih dapat membuatku basah kuyup. Oleh karena itu, aku hanya bisa duduk manis di beranda rumahku yang disibukkan oleh jemari lincahku untuk mengetik dan mengirim sms kepada teman-temanku seraya mencari ide agar tidak basah kuyup sesampainya di jalan raya nanti. Kemudian, seorang siswi Kesuma Indah yang di atas kepalanya diteduhi sebuah payung muncul dari balik pagar besi menghampiri jualan kakakku, kebetulan kakakku berjualan kecil-kecilan di beranda rumah kami yakni berupa alat-alat sekolah, makanan ringan, kebutuhan sehari-hari dan lain sebagainya serta kebetulan juga SMA Kesuma Indah posisinya tepat di depan rumah kami. “Kak…beliklah”, teriak siswi tersebut, “beli apa?”, tanya kakakku. “Penggaris satu, jangka satu, penghapus satu dan busur satu kak”, jawab siswi itu lagi. Seraya menunggu kakakku mengambil semua pesanannya, aku memotong pembicaraan mereka seraya melontarkan beberapa pertanyaan. “Dek, lagi belajar matematika, ya?” tanyaku dengan sok akrab. “Iya bg”, jawabnya dengan singkat, “terus kok bisa keluar dek?”, tanyaku lagi. Maklum sekolah kesuma Indah itu sekelilingnya dipagari oleh besi-besi yang menjulang tinggi layaknya sebuah penjara. “ Tadi permisi bang ma guru matematikanya mau beli peralatan sekolah ne”, sahutnya lagi. Kemudian, kakakku tiba-tiba muncul memotong pembicaraan kami seraya memberikan pesanan siswi tersebut.
Sebelum siswi yang belum ku kenal namanya itu beranjak dari jualan kakaku. “Dek Payungnya cantik kali yah sama seperti orangnya”, pujiku kepada siswi tersebut. “Ah nggak ah bang biasa aja“ jawabnya. “jangan mau digombal-gombalnya dek, mau minjam payungmu itu tujuannya, mau berangkat kuliah dia”, seru kakakku seraya tertawa kecil. Yah begitulah kakakku karena selalu saja ingin ngerjaiin aku. “Ehemmm…hem..Dek bang bisa minta tolong, nggak?”, tanyaku. “minta tolang apa bang?”, jawabnya. “Bang mau berangkat kuliah dek tapi hujannya belum reda dari tadi, tolong dong antarin bang ke jalan raya”, mau kan?”, tanyaku dengan nada memohon kepadanya. Sejenak dia diam dan memandang ke arah kakakku. Kakakku mengedipkan matanya kepada siswi tersebut sambil tertawa kecil dan berbisik “jangan mau dek”. Dia berdiri terpaku dan sedikit agak bingung. Akhirnya, Aku langsung saja berteduh dibawah payungnya tepatnya di samping kirinya dan berkata, ” ayoklah bentar aja ya dek nggak usah dengarin kakakku itu”, dengan sedikit memaksa. Tanpa sepatah kata kami pun berjalan menuju jalan raya.
Sesampainya dijalan raya, tepatnya didepan usaha Karya Serasi atau lebih umumnya di depan Pabrik es, sebuah angkot bernomor 02 dan berwarna kuning muncul. Spontan aku melambaikan tangan kananku sebagai isyarat memberhentikan angkot tersebut. dengan keadaan sedikit basah, aku menaiki angkot itu. Sesampainya di pasar Sagumpal tepatnya di Rajawali (sebutan akrab dipasar tersebut) aku turun dari angkot tersebut karena aku harus menaiki angkot jurusan lain yakni jurusan Sitataring atau jurusan menuju Kampusku:“Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan”. Kemudian, Ditengah-tengah keramain pasar dan rintik-rintik hujan yang masih berjatuhan, aku menaiki sebuah angkot bernomor 03 dan berwarna putih yang sedang parkir didekat Tugu Rajawali seraya menunggu sewa (angkot bernomor 03 dan berwarna putih adalah jurusan menuju kampusku). Di dalam angkot tersebut telah diisi oleh 5 penumpang, yakni seorang mahasiswa yang berada di ACC, dua orang mahasiswi di barisan bangku sebelah kanan tepatnya dekat pintu masuk, seorang nenek di sudut barisan bangku kiri, dan seorang pria dewasa di belakang sopir. Dengan perasaan campur aduk yakni penyesalan bangun telat, finish dikampus yang akan telat, dan hujan yang tak kunjung reda, aku menaiki angkot itu dan mengambil posisi tepatnya di sebelah nenek paling sudut kiri. Berselang dua menit ba’da aku masuk ke dalam angkot, tampak dari kejauhan dua gadis berlari-lari untuk menghindari rintihan hujan menuju angkot tersebut dan mengambil tempat duduk di bagian paling sudut barisan bangku sebelah kanan. Dengan posisi mereka seperti itu, otomatis aku harus face to face dengan salah-satu dari mereka. Gadis yang duduk tepat di depanku tersebut memakai kebaya putih lengkap dengan jam tangan menghiasi tangan kiri, sebuah cincin putih di jari manis tangan kiri yang bertuliskan huruf love, beberapa gelang di pergelangan tangan kanannya, dan tak luput sebuah dompet yang dipegangnya hati-hati dengan tangan kanannya. Nampaknya gadis tersebut baru pulang dari sebuah pesta. Disamping itu, Gadis itu mempunyai rambut lurus yang terurai sampai pinggangnya dan dia kelihatan tambah anggun setelah beberapa tetesan hujan membasahi rambutnya, berkulit sawo matang, bulu mata yang lentik, muka lonjong, hidung agak sedikit mancung, bibir tipis yang dihinggapi sedikit tetesan air hujan karena mengalir dari mukanya serta ada satu tahi lalat kecil diatas bibirnya. Seraya berbisik-bisik dengan temannya dia menyapu lembut air yang masih menempel dimukanya dengan beberapa lembar tisu halus. Tak lama kemudian, sang sopirpun melajukan angkotnya. Hujan nampaknya mulai reda namun suasana di dalam mobil nampak begitu hening tak ada suara bisik-bisik dan suara percakapan penumpang lagi. Di celah-celah keheningan selama perjalanan, aku ambil kesempatan untuk mencuri-curi pandang gadis yang berada di depanku. Sejenak aku memandangnya ketika dia menoleh ke kiri. Dengan perasaan ada yang mencuri pandangannya tanpa izin, sang gadis pun membalas pandanganku. Namun, sebagai seorang pencuri (pencuri pandangan he..he..) aku harus mengeluarkan jurus andalanku yakni dengan mengalihkan pandanganku ke arah nenek yang berada disampingku ketika dia memberi balasan pandangan itu. Hal itu kami lakukan berulang-ulang. Namun, pada suatu momen yakni ketika aku sedang mengalihkan pandanganku ke arah nenek itu sambil memperkirakan dia sedang menoleh ke kiri atau ke kanan , hatiku terus mendesak, ” ayo pandang dia lagi …lihat dia begitu jelita dan anggun, nanti kamu menyesal tak dapat memandangnya lagi”. Spontan aku mengikuti kata hatiku. Ketika aku mulai memandangnya ternyata dia tengah menunggu pandanganku dari tadi. Tiba-tiba pandangan kami bersatu dan dia hanya menghadiahi aku dengan sebuah senyuman manis seolah-olah didalam hatinya berkata kamu kalah. Dia pun membisikkan sesuatu kepada kawannya, sesuatu itu mungkin kejadian yang baru saja terjadi atau yang lainnya. Aku tersipu malu dan terdiam serta tak mampu memandanginya lagi. Akan tetapi, ternyata dia ketagihan untuk bermain petak umpet pandangan sehingga dia mencuri-curi pandang padaku. Ketika aku diam terpaku, nenek yang berada disampingku dalam keadaan ngantuk berat sehingga nenek itu menyandarkan kepalanya ke atas bahuku. “Wah nggak bisa ini, naas kali bagianku ini”, gumamku dalam hati, perlahan kugeser posisiku sedikit ke arah kanan sehingga nenek itu tersentak bangun. “Maaf yak nak nenek capek habis belanja tadi”, ujar nenek tersebut. “Oh…nggak apa-apa nek he..he…” jawabku sembari memberi senyum yang kurang ikhlas. Gadis itupun memanfaatkannya dengan tertawa kecil sembari memandangiku karena adegan itu. Dari simpang STKIP Tapsel telah nampak pohon-pohon sawit yang berbaris rapi di tepi jalan menandakan aku akan sampai di kampusku. Sebelum turun dari angkot kurobek secarik kertas kecil dari buku 30 lembarku. Ku torehkan diatas kertas tersebut dengan rangkaian kata “Gadis Penebar Senyum Engkau Telah Mencuri Hatiku,”. Sesampainya di depan kampus, “pinggir bang”, perintahku pada sang supir. ketika hendak keluar kujatuhkan kertas kecil yang telah kutulis tadi ke atas pangkuan gadis itu seraya tersenyum manis kepadanya.
Setelah sampai didalam kelas, ku lihat teman-teman sekelasku duduk acak-acakan disana-sini sambil berbagi cerita dan tawa menandakan dosen kami belum datang. Langsung saja aku bergabung dengan teamku yakin Dani, Wak leman, Bang Andes dan Sahril. “aku dah laper banget nih, kantin yuk”, kuajak mereka dengan sedikit memaksa. Nah, sambil ngemeal dikantin kuceritakan pengalamaku yang diangkot tadi kepada mereka. Namun, mereka tak pernah mau kalah untuk adu cerita maka ceritaku dipotong begitu saja. Maklum, karena mereka menganggap pengalaman mereka selalu top of the top. waktu terus bergulir jam tanganku menunjukkan pukul 10.00 WIB. Tiba-tiba sebuah SMS mengisi handphone bang andes yang berisi” bang udah masuk kita bang”, dari Fai. Yah terpaksa back to class.
Ba’da menjalani proses perkuliahan hingga jam 13.30, kami pun pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah kulampiaskan semua perasaan nano-nano ku yakni kesal, bosan, senang dan jengkel dengan merebahkan tubuhku ke atas kasurku. Yah aku harus beristrahat sejenak sembari menunggu waktu tuk mengajar di sebuah tempat kursus yaitu di sentika jam 14.30 WIB nanti. Namun, tak seperti biasanya aku tak mampu mati sejenak atau tertidur karena adegan-adegan yang telah terjadi diangkot tadi selalu mengisi ruang memoriku. Tepatnya jam 14.15 “It’s time to teach”, alarm handphone ku berbunyi seolah-olah menyuruhku tuk bergegas. Yah akupun langsung bergegas dan meluncur ke Sentika. Seraya menunggu para murid lesku datang aku duduk-duduk santai didepan ruang parkir les tersebut. Teeeet,teeet,teeeet”, bel telah berbunyi mengisyaratkan anak-anak harus bergegas ke dalam ruangan untuk mengisi kelas masing-masing. Aku masih sibuk membuka lembaran-lembaran buku untuk mengulas materi yang akan aku ajarkan. Di celah-celah keseriuasanku, Seorang gadis dewasa memarkirkan sepedamotor beat merahnya di depan gedung kursus dan dibelakangnya diikuti seorang gadis mungil turun dari sepeda motor itu. Si gadis mungil dengan terburu-buru menyalam tangan kakaknya dan bergegas masuk ke dalam kelasnya. Aku pun segera beranjak dari tempat dudukku tapi kakiku diam terpaku seraya melototi si gadis yang menunggangi beat merah. Ya dia adalah gadis yang beradu perang pandangan di angkot tadi. Dalam hatiku bergumam,” ini kebetulan atau takdir”?. Sang gadis pun memandangiku dengan perasaan kurang percaya seakan-akan di dalam hatinya berbisik” apa iyah pria berpenampilan acak-acakan ini yakni seorang pria dimana susunan rambutnya seperti menara yang dibawa kemana-mana dan memakai sandal adalah salah-satu instruktur di kursus ini. Kemudian dia bertanya, “Kamu intstruktur disini?”. Ntah kenapa mulut ini rasanya seperti dilem sehingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun padahal aku begitu cerewetnya ketika mengajar di depan murid-muridku. Aku hanya bisa menunduk sebagai isyarat mengiyakan. Dia memandangiku dengan serius dan menebarkan senyum manis. Bibir tipisnya melebar diikuti pipinya sedikit berkerut serta sorotan mata yang penuh arti adalah motif yang memikat hatiku. Akupun menunjuk jam tanganku dan menunjuk ke arah ruangan sebagai isyarat aku harus masuk ke dalam kelas dulu. Diapun mengangguk sembari memberikan senyuman manis perpisahan seolah-olah ingin mengucapkan “semoga mengajarnya sukses ya”. “Ehem..Tunggu dulu”, perintahnya padaku sembari mengambil robekan kertas kecil yang sudah berkerut dari dompetnya dan menuliskan beberapa rangkaian kata serta menunjukkannya kepadaku. “Kamu Telah Mencuri Pandanganku” adalah rangkaian kata yang ditulisnya dibalik tulisan “Gadis Penebar Senyum Kamu Telah Mencuri Hatiku”. Ya kertas itu adalah kertas yang ku jatuhkan di atas pangkuannya tadi pagi sehingga membuatku tersipu malu. Lantas dia menyimpan kertas itu kembali ke dalam dompetnya dan menebarkan senyum untuk terakhir kalinya seraya menunggangi Beat merahnya. Dengan semangat empat lima aku pun masuk ke dalam kelas untuk menuntaskan amanahku yakni mentrasnfer pengetahuanku kepada murid-muridku.
Hari itu adalah hari sabtu jam 14.00 WIB aku mengunjungi tempat kursusku khusus untuk menerima gaji bulananku. Hari itu Sudah menggenapkan satu tahun lamanya aku berbakti di tempat kursus itu. Ternyata karirku harus berhenti sampai disitu. Sang pimpinan berujar padaku “ Pak Rizal, kondisi saat ini, kita kehilangan banyak murid. Jadi kamu harus bersabar karena kita harus menyeimbangkan jumlah instruktur dan murid di kursus ini. Untuk saat ini kamu harus pensiun dulu”.”iya nggak apa-apa, pak” jawabku dengan perasaan sedikit kecewa. Ada tiga motif kekecewaan bagiku yakni kenapa harus aku yang dipensiunkan, aku tak mampu bercanda tawa lagi dengan murid-muridku, dan harapanku tuk bertemu dengan gadis yang selalu menebarkan senyuman kepadaku pupus begitu saja. Semenjak hari itu, lembaran hari-hariku berlalu dengan torehan sikap dingin, pendiam, dan cuek kepada keluarga dan temanku. Perilaku ini berlalu hingga dua minggu sebagai realisasi penenang jiwaku. Kalau hanya sebatas mengajar aku masih punya wadah cadangan yakni di Era English Course. Akan tetapi kemana aku harus mencari dan menjelajahi senyuman gadis itu?
Disela-sela keseriusanku mengetik skripsi sebuah SMS mengisi inbox handphoneku yang berisi “Bagaimana kabar pak guru?”. SMS itu dikirim oleh ibu Ijah yang menjadi rekan kerjaku di tempat kursus. “ alhamdulillah baik buk”, ibu sendiri bagaimana kabarnya?, balasku seraya menanyakan keadaannya sebagai basa-basi. “ Alhamdulillah baik juga, pak” sahutnya. “bagaimana keadaan kursus Buk?”, tanyaku. “itulah pak banyak murid kita yang berhenti pak, terutama karena bapak nggak ngajar lagi kata anak-anak pak”, sahutnya. Sejenak hatikupun merasa senang karena masih ada yang merasa kehilangan sosokku. ” Si Dinapun Nggak ikut lagi kursusnya?”, tanyaku lagi dengan perasaan ingin tahu. Dina adalah salah – satu muridku yang cerdas dan kebetulan gadis itu adalah adik si gadis penebar senyum. “iya diapun dah mulai malas datang semenjak mendengar bapak nggak ngajar lagi disini, terus cerita dari teman-temannya kakaknya nggak mau ngantarinnya lagi katanya”, balasnya. ”Oh gitu yah, he..he…Oklah aku mau lunch dulu ni, makasih yah dan semoga tetap jayalah tempat kursusnya”, balasku. “iya gitu…sama-sama.Amin!!!”, balasnya lagi. Sembari makan siang akupun tersenyum-senyum sendiri karena teringat isi sms tadi sehingga membuatku Grrrrr.” ternyata anak-anak masih mengenangku juga dan si gadis penebar senyum manis itu mungkin merasa malas mengantar adiknya Dikarenakan ketidak hadiranku..ha…ha…”, bisikku dalam hati dengan penuh self-confidence.
Wahai gadis penebar senyum dimanakah engkau berada? Adakah engkau membagi senyummu kepada orang lain atau engkau simpan untuk dipersembahkan padaku, rangkaian kata ini selalu menghiasi hatiku sampai sekarang. Dimana dan kemana aku harus melihat senyuman manismu lagi. Aku harap kita dapat bersua kembali untuk yang ketiga kalinya untuk tertawa puas dengan membaca robekan kertas kecil itu.
1.378611
99.272222